STANDING LAST …
“Kebahagiaan adalah ketika kita mencoba untuk membuat orang lain bahagia”
12 Februari 2006
.…
Malam semakin dingin Langkah semakin berat kuayun
Sedang kau masih ku tunggu
Tapi kau semakin menjauh
19 Januari 2006
Aku tidak mengerti dirimu
Dan aku mencoba untuk bersabar
…
Sejenak berfikir, bahwa mungkin semua cuma kejadian yang melintasi kisah hidupku, tidak lebih. Dan mungkin esok Tuhan akan memberikan kisah hidupku yang lain disuatu tempat yang lain, di-antahberantah yang aku mungkin tidak pernah membayangkan akan menjejakkannya. Atau mungkin kisah hidupku berhenti pada penantianku padanya. Dan memulai kisah baru yang juga tidak pernah aku bayangkan. Setelah malam semakin larut. Di sebuah mushalla yang telah sepi, kucoba tegakkan tubuhku untuk menyambung istikhoroh yang belum terputus. Aku ingin benar-benar mendapatkan keyakinan bahwa dialah yang terbaik untukku. Dan akulah yang terbaik baginya, atau tidak sama sekali. Ku lepaskan tangisku dalam sujud. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk mengenang semua orang yang telah hadir dalam hidupku. Ibu, bapak, saudara-saudara, teman-teman, bahkan orang-orang yang kuingat dan entah dimana mereka saat ini. Dan tentu saja kepadaNya yang telah memberikanku helaan nafas hingga detik ini.
…
Pagi ini, bahkan pagi ini aku masih belum mengerti dirinya. Perjalanan yang dapat kutempuh sepanjang kaki telah lelah, aku kembali merenung. Langkah kaki terasa berat dan gundah tak mampu kuhempas. Seorang diri kususuri jalan saat udara masih segar dan mentari belum nampak. Walau hati terasa sangat berat, tapi semua harus terlupakan. Saat ini, aku hanya ingin tersenyum dan tertawa. Pada orang-orang yang melintasi dan pada hariku yang cerah saat ini. Lupakan setiap masa yang aku coba rangkai bersamanya. Sudah lupakan. Dan biarlah waktu yang akan menjernihkan situasinya. Sampai akhirnya kau datang dengan sepucuk surat . Dan aku hanya tertawa kecil.
…
Dia sedang terlelap. Sedang bis yang kami tumpangi seakan senyap. Mungkin teman-teman terlalu lelah untuk bercanda seperti saat berangkat seminggu lalu. Ku lepaskan pandangku diantara awan melalui kaca jendela. Seakan jenuh menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang silih berganti. Segumpal awan seakan membentuk citra abstrak yang indah, dengan guratan-guratan tipis awan lainnya yang saling melengkapi. Sedangkan bias senja sore menambah misteri keindahan kaki langit. Sungguh luar biasa indah pasti Sang Pemilik alam raya. Dia masih terlelap. Senyum lelah nampak di wajahnya. Aku malu menatapnya lebih lama. Karena belum saatnya aku menatap lebih lama. Rasa kantuk aku tahan. Mungkin setengah jam lagi aku sampai diperhentianku. Kuikuti lantunan lirih suara walkman yang bersaing dengan deru bis.
…
"telah cukup lama kudiam didalam keheningan ini kebekuan dibibirku tak berdayanya tubuhku dan ternyata cinta yang menguatkan aku"
…
Dan tibalah diperhentianku. Kucoba melepaskan penat dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk esok hari. Katanya ingin pergi ke seorang teman yang baru saja melepaskan masa lajangnya. Dan begitulah selanjutnya semua berjalan. Tak mampu aku hentikan.
…
Aku terkadang tak mengerti jalan hidup ini. Saat kecil, beragam keinginanku untuk menjadi sesuatu dimasa depan kelak ternyata sungguh jauh berbeda dengan yang kuingat dalam kejadian hidupku. Masa-masa mengenyam pendidikan di tingkat pertama hingga saat aku lulus kuliah, perjalanan hidupku seakan tidak mampu aku arahkan. Seakan-akan yang kuyakini adalah Allah telah mengarahkan hidupku sedemikian rupa hingga saat ini, malam ini, aku berjalan bersamanya menuju sebuah kisah baru yang ku ingin indah. Biarlah kemana kaki ini berlari. Biarlah jasad ini membawaku pergi. Karena dia disampingku. Perjalanan hidup ini kuyakin tak seindah lukisan pelangi. Juga tak semudah apa yang kita tuliskan dalam buku kenangan. Aku tahu itu dan kucoba lebih mengerti bahwa hidup ini kesempurnaan yang saling melengkapi. Ada suka ada duka. Dan semuanya lebih mudah untuk dijalani bersama. Perkenalan kami hanya beberapa bulan, sebelum kami putuskan bahwa ikatan suci lebih memudahkan atas segala sesuatunya.
…
Dia masih tegar bersamaku. Tidak satu katapun yang terucap karena sesal telah mengukuhkan kebersamaan dalam hidup ini. Setiap kata dan setiap tingkah yang ku mengerti kuteguhkan semangatnya. Tidak pernah ia mengeluh atas apa yang diterimanya saat ini. Kami hidup sederhana. Dan kesederhanaannya yang semakin mempesona diriku. Rumah kontrakan yang kami tempati semakin terasa sempit dengan kehadiran si bungsu yang semakin besar. Selalu saja ada kejadian yang menyenangkan diantara kegundahan kami. Kehadiran masing-masing bayi mungil kami diantara kesederhanaan dan kekuatan cinta kasih yang kami berikan kepada mereka. Agar mereka mampu mengenal dunia ini dengan nilai kasih sayang yang kami tanamkan padanya. Anak kami tiga orang. Putri bungsu selalu bangun pagi-pagi sekali. Makin merepotkan uminya saja karena harus mengurus kedua kakaknya yang harus berangkat sekolah. Sekali-sekali ku ajak dia berlari di halaman samping sebelum berangkat kerja. Dan sabtu dan minggu pagi kami selalu lari pagi bersama untuk sikecil. Rezeki yang kami kumpulkan dengan perlahan-lahan telah membuahkan sebuah rumah yang mungil dan sederhana. Di beranda kami sering duduk santai dan bercerita kembali tentang masa yang tlah lalu. Dan biarlah itu menjadi kenangan yang bisa menumbuhkan cinta kasih kami. Dan menjalani kehidupan ini dengan syukur. Kami mendidik anak dengan segala upaya yang kami mampu. Kami ingin mereka pandai dan cerdas. Dan mensyukuri setiap remah-remah rezeki yang telah Allah anugerahkan kepada keluarga kami. Karena itu yang mampu kami titipkan kepada mereka. Dan biarlah istirahat panjang ini tidak mengganggu kehidupan anak-anak kami kelak.
…
NB : Mmm…hidup ini bukan coretan tangan atau kutipan puisi seperti yang kita inginkan. Hidup kita tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan memang harus seperti itu. Biarlah setiap momen hidup kita jalani setiap detiknya. Mungkin tidak selalu seperti yang kita bayangkan, karena Dia telah menentukan jalan kita. Yang terpenting saat ini adalah berusaha.